Pertemuan Awal yang Singkat pt. 2


Photo by Joseph Gruenthal on Unsplash

" Kamu sudah punya pacar ?" Dheg. Rasanya ada dentuman kuat di jantung ini. Iiih, dia kepo, atau jangan jangan ini adalah sebuah kode untuk pacaran. Oh no, pikiranku melayang membayangkan fantasi yang tak kan pernah terjadi. Aku tentu saja tidak punya pacar. Jadi teringat saat pagi itu ada ceramah yang menegaskan kalau pacaran ditunda dulu sampai ujian nanti. Dengan cepat aku bilang kalau aku tak punya pacar. Aneh banget deh.

Setelah percakapan itu, cukup lama hening terjadi. Saat itulah aku melihat name tag dia, cuma sekilas. Aku mencium bau rokok, sudah dari tadi sih. Ternyata dia itu perokok. Aku paling benci asap rokok karena perokok pasif akan lebih terkena dampak buruk daripada perokok aktif. Di rumah tidak ada yang merokok karena itu dilarang oleh ibu.

Bau rokok darinya masih tercium. Dia menoleh sambil bercerita tentang film yang sedang tayang di bioskop. Saat dia bercerita, cahaya senja masuk melewati jendela. Dia membelakangi jendela sambil menggaruk kepalanya. Aku menatapnya lama. Aku bahkan menahan nafas saat dia melepas kacamata yang bertengger manis di hidungnya. Itu keren. Jujur jantungku berdegub lebih cepat dan tanganku gemetar. Aku gugup!!!

Aku pura pura mengalihkan pandanganku, sungguh aku tak kuat untuk ini. Kuputuskan untuk segera pulang karena langit mulai gelap. Aku merapikan barang sambil mencuri curi pandang. Dia menatapku dan bertanya apakah aku akan pulang, kujawab dengan anggukan kepala. Di sebelahnya ada tembok tempat colokan listrik, atau apalah namanya itu, dia mencopot kabel charge laptopku. Itu perhatian banget tau...

Setelah selesai merapikan barang, aku menatapnya sebentar. Kemudian aku mengucapkan "duluan ya," sambil menenteng tas. Aku pergi tanpa melihatnya lagi. Entah kapan aku bisa bertemu lagi, tapi aku berharap aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Kata teman sih kalau bikin baper itu jebakan namanya. Saat aku sampai di luar, aku melihatnya membelakangi jendela. Sayang sekali aku tak menatapnya.

Oh ya, siapa namanya tadi aku lupa. Aku mencoba menggingat tapi tak bisa, ingatanku memang payah. Dia juga mungkin tak tau namaku. Jadi, kita tadi berbicara eh salah dia bertanya aku yang menjawab, saling tak tau nama masing masing. Selama perjalanan aku terus kepikiran. Saat dia bercerita tentang film tadi membuatku tersenyum. Senyum di akhir senja.

<<<>>>

Ini adalah selembaran kisah yang di modifikasi oleh fantasi berjuta imajinasi.


Komentar

Postingan Populer